PERKEMBANGAN KOGNITIF PESERTA DIDIK
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Perkembangan Peserta Didik
Dosen Pengampu : Asma’ul Husna, S.Ag., M.Pd.




Disusun oleh kelompok V :
Hanik Musyarofah (176010050)
Muhammad Burhanuddin (176010051)
Nikmatus Sholikhah (176010052)
Dwi Ayu Nur Hidayah (176010053)

FAKULTAS AGAMA ISLAM
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
TAHUN  2017/2018

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Peseta didik tidak pernah terlepas dari belajar, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Kemampuan kognitif sangat diperlukan peserta didik dalam pendidikan. Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan peserta didik.  Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam sekolah.
Dalam perkembangan kognitif di sekolah, guru sebagai tenaga kerja kependidikan yang bertanggung jawab dalam melaksanakan interaksi edukatif dan perkembangan kognitif peserta didik, perlu memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang perkembangan kognitif pada anak didiknya. Orang tua juga tidak kalah penting karena perkembangan dan pertumbuhan anak dimulai di lingkungan keluarga. Namun, sebagian pendidik dan orang tua belum terlalu memahami.
Oleh karena itu, mengingat pentingnya perkembangan kognitif bagi peserta didik, diperlukan penjelasan perkembangan kognitif lebih detail baik pengertian maupun tahap-tahap karakteristik perkembangan kognitif perserta didik.
Rumusan Masalah
Pengertian perkembangan kognitif
Pekembangan peserta didik menurut Piaget
Karakteristik perkembangan kognitif peserta didik
Faktor-faktor yang memengarui perkembangan peserta didik
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget terhadap pendidikan
Tujuan  Masalah
Mengetahui pengertian perkembangan kognitif
Mengetahui perkembangan peserta didik menurut Piaget
Mengetahui karakteristik perkembangan kognitif peserta didik
Mengetahui fator-faktor yang memengaruhi perkembangan peserta didik
Mengetahui implikasi teori perkembangan kognitif Piaget terhadap pendidikan


BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Perkembangan Kognitif
Sama halnya dengan sejumlah aspek perkembangan lainnya. Kemampuan kognitif anak juga mengalami perkembangan tahap demi tahap menuju kesempurnaannya. Secara sederhana perkembangan kogtitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah. Dengan berkembanganya kemampuan kognitif ini akan memudahkan anak menguasai pengetahuan yang lebih luas, sehingga anak mampu menjalankan fungsinya dalam interaksinya dengan masyarakat dan lingkungannya.
Sejumlah ahli psikologi juga menggunakan istilah thinking atau pikiran untuk menunjukkan pengertian yang sama dengan cognition (kognisi), yang mencakup berbagai aktifitas mental, seperti: penalaran, pemecahan masalah, pembentukan konsep-konsep dan sebagainya. Dalam hal ini, Mayers (1996) menjelaskan bahwa “thinking, or cognition, is the mental activity associated, understanding, and communication information…these mental activities, including the logical and sometimesillogial ways in which we create concept,solve problems,make decisions, and form judgments”. Mayers mengartikan berpikir sebagai “kemampuan membayangkan dan menggambarkan benda atau peristiwa dalam ingatan yang bertindak berdasarkan penggambaran ini. Pemecahan masalah yang berasarkan pemikiran  dibedakan dengan pemecahan masalah melalui manipulasi yang nyata”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, perkembangan kognitif adalah istilah perkembangan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan presepsi, pikiran, ingatan, dan pengetahuan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahakan masalah, merencanakan masa depan atau semua proses psikologi yang berkaiatan dengan bagaimana dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan lingkungannya.
Perkembangan Kognitif  Menurut Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh psikologi kelahiran Swiss yang berjasa menemukan model yang mendeskripsikan bagaimana manusia bertindak untuk memaknai dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasi informasi. Ide-ide Piaget tentang perkembangan pikiran banyak mempengaruhi teori perkembangan kontemporer.
Ide-Ide Dasar Teori Piaget
Dalam wawancara dan pengamatan yang seksama terhadap anaknya dalam situasi pemecahan masalah, Piaget menemukan beberapa konnsep dan prinsip tentang sifat-sifat perkembangan kognitif anak, diantaranya:
Anak adalah pembelajar yang aktif. Piaget menyakini bahwa anak tidak hanya mengobservasi dan mengingat apa-apa yang mereka lihat dan dengar secara pasif. Mereka memiliki rasa ingin tahu tentang dunia mereka secara aktif dan berusaha mencari informasi untuk membantu pemahaman dan kesadaran tentang realita dunia yang mereka hadapi.
Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya. Anak tidak hanya mengumpulkan apa-apa yang mereka pelajari dari fakta-fakta yang terpisah menjadi suatu kesatuan. Sebaliknya, anak secara gradual membangun suatu pandangan menyeluruh tentang bagaimana dunia bergerak. Misalnya, dengan mengamati bahwa sesuatu yang dipegang akan terjatuh ketika mereka melepaskannya, anak memulai membangun pemahaman awal tentang gravitasi.
Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Dalam menggunakan dan mengadaptasi skema mereka ada dua proses yang bertanggung jawab, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada, yakni anak mengasimilasi lingkungan ke dalam suatu skema. Sedangkan akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru, yakni anak menyesuaikan skema mereka dengan lingkungannya.
Proses ekuilibrasi menunjukan adanya peningkatan ke arah bentuk-bentuk pemikiran yang lebih komplek, yakni keadaan seimbang antara struktur kognisinya dan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai mengunakan proses penyesuaian di atas.




 Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Dalam hal ini Piaget membagi tahap perkembangan kognitif manusia menjadi 4 tahap, yaitu: tahap sensorimotor (usia-2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2-7 tahun), tahap operasioal konkrit (usia 7-11 tahun), dan tahap operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa).
Tahap Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah reflek untuk mengeksplorasi dunianya. Tahapan sensorimotor adalah tahapan pertama dari empat tahap. Pada tahap ini bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengkoordinasi pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindkan fisik. Dengan berfungsinya alat-alat indra serta kemampuan-kemampuan  melakukan gerak motorik dalam bentuk refleks, maka bayi dalam keadaan siap untuk mengadakan hubungan dengan keduanya. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai  perkembangan kemampuan dan pemahaman spasial dalam enam sub-tahapan:
Sub-tahapan skema reflex , muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama refleks.
Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia 4-9 bulan  dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia 9-12 bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek untuk sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda jika dilihat dari sudut yang berbeda.
Sub- tahapan fase reaksi sirkular tarsier, muncul dalam usia 12-18 bulan, dan berhubungan terutama dengan dengan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
Sub-tahapan awal representasi simbolis, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

Tahap pra-operasional ( usia 2-7 tahun)
Pemikiran pra-operasional dalam teori Piaget ialah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahap ini belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Anak memiliki pikiran yang imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun mempunyai perasaan. Dan dalam tahap ini anak mengembangkan ketrampilan berbahasanya. Mereka mulai mempresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar.
Pada tahap ini penggunaan simbol bagi anak tampak dalam lima gejala berikut:
Imitasi, anak mulai dapat menggambarkan suatu hal yang dialami dan dilihat. Contohnya, anak bermain kue-kuenan atau masak-masakan sendiri.
Permainan simbolis, anak mencoba meniru kejadian yang pernah dialami. Contohnya, anak perempuan yang bermain dengan bonekanya , seakan bonekanya adalah anak atau adiknya.
Menggambar, ini adalah tahap sebagai jembatan antara permainan simbolis dengan gambaran mental. Contohnya, anak mulai menggambar sesuatu dengan pensil atau alat tulis yang lain.
Gambaran mental, merupakan penggambaran secara pikiran suatu objek atau pengalaman yang lampau. Contohnya, yang digunakan Peaget adalah deretan lima kelereg hitam dan putih.
Bahasa ucapan, anak menggunakan reprentasi benda atau kejadian. Melalui bahasa anak dapat berkomunikasi dengan orang lain tentang peristiwa kepada orang lain.

Tahap operasional konkrit (usai 7-11 tahun)
Tahapan ini mempunyai ciri-ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini antara lain:
Pengurutan, yaitu kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke kecil dan sebaliknya.
Klasifikasi, yaitu kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilan, ukuran, atau karakteristik tampilan yang lain, dan anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup berperasaan).
Decentering, yaitu anak mulai memperhatikan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh, anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tetapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility, yaitu anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 sama dengan 4 (jumlah sebelumnya).
Konversasi, yaitu memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda ialah tidak berhubungan dengan pengaturan, tampilan objek atau benda-benda ini. Contohnya, jika anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas yang lain yang ukurannya berbeda, air digelas ini akan tetap sama banyak dengan isi cangkir yang lain.
Penghilangan sifat egosentris, yaitu penghilangan kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Sifat ini berangsur-angsur akan menghilang untuk mamasuki tahapan selanjutnya.
Tahapan operasional formal (usai 11 tahun ke atas)
Tahap operasional formal adalah periode terahir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini dialami anak pada masa pubertas dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteritik tahap ini adalah diperolehnya kemamuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi-informasi yang tersedia. Dalam tahap ini, seseorang mulai dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu tidak hanya dalam bentuk hitam putih, namun ada gradasi abu-abu diantaraya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia deasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan social.
Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai ketrampilan berpikir sebagai seseorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Karakter Perkembangan Peserta Didik
Usia sekolah (Sekolah Dasar)
Perkembangan ini terjadi antara usia 7-11 tahun (tahap operasi konkret) yaitu masa dimana aktivitas mental anak terfokus pada objek-objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya. Ini berarti bahwa anak usia seolah dasar sudah memiliki kemampuan untuk berfikir melaui urutan sebab-akibat dan mulai menganali banyaknya cara yang bisa ditempuh dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Anak usia ini juga dapat mempertimbangkan secara logis hasil sebuah kondisi atau situasi serta tahu bebrapa aturan atau strategi berpikir, seperti penjumlahan, pengurangan, penggandaan, mengurutkan sesuatu secara berseri dan mampu memahami oprasi dalam sejumlah konsep.
Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari pancaindra, karena ia muai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan yang sesungguhnya, dan antara yang bersifat sementara dengan yang bersifat menetap.
Negasi (negation)
Pada masa pra-operasional anak hanya melihat keadaan permulaan dan akhir dari deretan benda, yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada akhirnya keadaan menjadi tidak sama.  Anak tidak melihat apa yang terjadi diantaranya. Tetapi pada masa konkret operasional, anak memahami proses apa yang terjadi diantara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan antara keduanya. Pada dereta benda-benda, anak bisa mealui kegiatan mentalnya mengembalikan atau membatalkan perubahan yang terjadi sehingga bisa menjawab bahwa jumlah benda-benda adalah tetap sama.
Hubungan timbal balik (resiprokrasi)
Ketika anak melihat bagaimana deretan benda-benda itu dirubah, anak mengetahui bahwa benda-benda bertambah panjang, tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dengan deretan lain. Karena anak mengetahui hubungan timbal balik antara panjang dan kurang rapat atau sebaliknya kurang panjang tetapi lebih rapat, maka anak tahu pula bahwa jumlah benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama.
Usia Sekolah Menengah (SMP – SMA)
Perkembangan ini terjadi pada usia sekitar 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa. Secara umum karakteristik pemikiran remaja pada tahap operasional formal ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir  secara abstrak dan hipotesis, menalar secara logis dan menarik kesimpulan tentang informasi yang tersedia.
Pada fase sebelumnya ketika masih sebagai anak-anak mereka hanya bisa berfikir konkrit. Peserta didik pada tahap ini juga dapat mempertimbangkan kemungkinan masa depan, mencari jawaban, menangani masalah dengan fleksibel, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan atas kejadian yang mereka tidak mengalaminya secara langsung.
Titik puncak perkembangan kognitif terjadi ketika peserta didik sudah memasuki usia dewasa dan jaringan sosial semakin berkembang. Remaja dapat mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tantangan dimasa mendatang dan merencanakan untuk masa depan. Dengan demikian, terlihat betapa remaja yang sudah mencapai tahap operasi formal telah mampu melakuakan penalaran hipotesis deduktif. Sehingga mereka dapat mempertimbangkan semua hubungan yang dapat dibayangkannya dan meneliti semua secara sistematis, satu per satu untuk menemukan kebenaran.

Faktor-faktor yang Memengarui Perkembangan Kognitif Peserta Didik
Hereditas dan Non hereditas
Faktor hereditas merupakan faktor yang bersifat statis, lebih sulit untuk berubah. Faktor non hereditas merupakan faktor yang lebih pastis, lebih meungkinkan untuk diutak atik oleh lingkungan. Pengaruh non hereditas antara lain peranan gizi, peran keluarga, peran masyarakat atau lingkungan.
Perkembangan kognitif sudah dapat dipersiapkan sejak dalam kandungan sampai dewasa. Asupan gizi yang sehat dan seimbang menjadi fondasi bagi perkembangan kognitif. Calon bayi juga dapat dirangsang dengan cara memberi rangsangan seperti mengajak berbicara, mendengarkan musik, menjaga stabilitas emosi pada ibu. Setelah lahir, rangsangan yang diberikan juga tetap dilakukan.
Perkembangan otak. Otak berkembang paling pesat pada masa bayi. Pada masa kanak-kanak, perkembangan otak dan sistem syaraf berkelanjutan. Bertambah matangnya otak , dikombinasikan dengan kesempatan untuk mengalami suatu pengalaman melalui rangsangan dari lingkungan menjadi sumbangan terbesar bagi lahirnya kemampuan-kemampuan kognitif pada anak
Kasih sayang merupakan suatu aspek penting dari relasi keluarga pada masa bayi yang dapat memengaruhi perkembangan kognitif pada anak kedepannya. Penting diperhatikan bahwa kasih sayang pengasuh pada tahun-tahun pertama anak menjadi kunci pada perkembangan selanjutnya.


Implikasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget terhadap Pendidikan
Teresa M. McDevitt dan Jeanne Ellis Ormrod (2002) menyebutkan beberapa implikasi teori Piaget bagi guru-guru di sekolah, yaitu:
Memberikan kesempatan pada peserta didik melakukan eksperimen terhadap objek-objek fisik dan fenomena-fenomena alam.
Anak-anak dari semua usia akan banyak mendapat pelajaran dari hasil eksporasi dunia nyata. Pada tingkat pra-sekolah,eksplorasi ini berupa permainan dengan air, pasir, balok, kayu dan lain-lain. Selama tahun-tahun sekolah dasar, eksplorasi mungkin dilakukan  melalui beberapa aktifitas, seperti melempar dan menangkap bola, menjelajahi alam, bekerja dengan tanah liat dan cat air, atau membentuk struktur bangunan dengan menggunakan stik es dan lain-lain.
Demikian juga halnya dengan siswa-siswa sekolah menengah, meskipun telah memiliki kemampuan untuk berpikir abtrak, masih pelu diberi kesempatan untuk memanipulasi dan melakukan eksperimen dengan benda-benda konkrit, seperti bereksperimen dengan menggunakan alat-alat laboratorium, kamera dan film, dan peralatan masak.
Mengeksplorasi kemampuan penalaran siswa dengan mengajukan pertanyan-pertanyaan atau pemberian tugas-tugas berpikir pemecahan masalah.
Dengan memberikan tugas-tugas baik yang berkaitan dengan ketrampilan operasional konkrit maupun operasional formal, serta mengobservasi respon siswa terhadap tugas-tugas tersebut, guru akan mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana pemikiran dan penalaran para siswa. Dengan mengetahui pemikiran dan penalaran para siswa, guru akan dapat menyusun kurikulum dan materi-materi pengajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir mereka.
Tahap-tahap perkembangan kognitif Piaget menjadi acuan dalam menginterpretasikan tingkah laku siswa dan mengembangkan rencana pelajaran.
Tahap-tahap perkembangan kognitif Piaget memang tidak selalu akurat dalam mendeskripsikan kemampuan berpikir yang logis para siswa, tetapi bagaimanapun tahapan pemikiran yang diajukan dapat memberikan petunjuk tentang pemikiran dan proses penalaran siswa pada berbagai tingkat usia. Guru sekolah dasar misalnya akan memahami kemungkinan menghadapi kesulitan dengan proporsi dan konsep-konsep yang abtrak. Sedangkan bagi guru sekolah menengah tentu akan lebih mengharapakan siswanya mendiskusikan ide-ide tentang kemajuan hidup masyarakat meskipun masih berupa pemikiran yang tidak realistis.
Tahap-tahap perkembangan kognitif Piaget juga memberikan petunjuk bagi para guru dalam memilih strategi pembelajaran yang lebih efektif pada tingkat kelas yang berbeda. Siswa secara aktif diberi semangat dalam proses pembelajaran.
Pada setiap tingkat pekembangan kognitif, siswa secara aktif diberi semangat dalam proses pembelajaran. Guru harus tidak meremehkan atau terlalu mengunggulkan kemampuan berpikir siswa saat sekarang. Sebaliknya, siswa pada setiap tingkat didorong untuk secara aktif menggabungkan informasi yang ada. Untuk itu, mereka harus melakukan tindakan atas informasi dengan berbagai cara, dan proses pendidikan di sekolah harus memberi siswa ksempatan untuk memiliki pengalaman atas dunia.
Merancang aktivitas kelompok di mana berbagai pandangan dan kepercayaan dengan siswa lain.
Interaksi teman sebaya sangat membantu anak memahami bahwa orang lain memiliki pandangan yang berbeda dengan dirinya sendiri. Oleh sebab itu interaksi dengan sebaya atau dengan teman sekelas akan memungkinkan siswa menguji pemikirannya, merasa tertantang, menerima umpan balik, dan melihat bagaimana orang lain menyelesaikan masalah.











BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Perkembangan kognitif pada peserta didik merupakan pembahasan yang cukup penting bagi pengajar maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada anak merupakan kemampuan anak untuk berfikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah yang termasuk dalam proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Dalam memahami kemampuan kognitif, kita harus mengetahui proses perkembangan tersebut. Selain itu, karakteristik perkembangan kognitif peserta didik juga harus dapat dipahamai semua pihak. Dengan pemahaman pada karakteristik  perkembangan peserta didik, pengajar dan orang tua dapat mengetahui sebatas apa perkembangan yang dimiliki anak didiknya sesuai dengan usia mereka masing-masing, sehingga pengajar dan orang tua dapat menerapkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan kognitif masing-masing pesrta didik.
Meskipun banyak hal dan kendala dalam perkembangan kognitif anak, setidaknya kita sebagai calon pengajar maupun sebagai calon orang tua harus memahami tentang perkembangan kognitif dan tahap-tahap karakteristik perkembangan kognitif agar kita mampu mengetahui perkembangan kmampuan kognitif masing-masing anak.
Saran
Dalam penulisan dan pembahasan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu kami sebagai penulis menghargai berbagai kritik dan saran dari rekan-rekan semua, agar dalam penulisan makalh berikutnya dapat lebih baik. Terimakasih.






DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. Perkembangan Peserta Didik. 2011. Bandung: Alfabeta
Desmita. Psikologi Perkembangan Perserta Didik. 2017. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Hadinoto, Siti Rahayu. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya.       2014. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Jahja, Yudrik. Psikologi Perkmbangan. 2011. Jakarta: Kencana Prenadaa Media Grub

Komentar